Bom di Ujung Tanjung
Sayup terdengar alunan tembang lawas, “ … dermaga saksi bisu … .“ Seorang perjaka tercenung lunglai di ujung bom Dabo Singkep. Orang-orang sibuk dengan kail, pancing, dan jaring berhanyut, dia hanya tercenung seumpama tak bermaya. Sekejap kemudian dia memandangi ponselnya tak berkedip. Sesekali menunduk, sesekali menerawang, sesekali melenguh, sesekali berdecak. Entah apa pasalnya sehingga dia semacam tak tentu arah. Kasihan aku melihatnya. Khawatir pula dia tercampak di ujung bom itu. Kusapa dia. Tak lama kemudian kami akrab selayaknya sahabat. Kami mulai bercakap-cakap tentang isu-isu politik, ekonomi, dan pendidikan negeri ini. Pelan-pelan, lambat laun, pembicaraan kami beralih. Kuajak dia bercerita tentang duka dan luka lara. Tak sadar lalu dia bercerita. Apakah telah terhapus luka dengan air mata? Bermula kisahnya seorang perjaka bersahabat dengan seorang adik tingkatnya yang berbeda asal muasal. Sang perjaka berasal dari Dabo Singkep sedangkan sang perawan berasal dar...